Apa itu Sindrom Narcolepsy? Ini Penjelasannya


Halo Serupedians

Dalam keseharian kita tentu pernah melihat ada orang yang tiba-tiba jatuh dan tertidur pulas saat melakukan aktivitas biasa. Orang menganggap hal ini pasti adalah pingsan. Padahal mereka hanya tertidur biasa.


Jika pernah melihat seperti itu, inilah yang disebut Sindrom Narcolepsy, yang merupakan serangan tidur mendadak tanpa tanda-tanda mengantuk. Narcolepsy adalah kerusakan kronis pada otak yang menyebabkan hilangnya kontrol untuk tidur atau terjaga pada seseorang.

Sindrom ini disebut berbahaya jika dalam kondisi mengemudi atau dalam suasana genting, karena mungkin saja akan menyebabkan kecelakaan yang parah.

Apa penyebab?

Kebanyakan pengidap Sindrom Narcolepsy memiliki sel neurotransmiter hypocretin yang rendah, sel yang berfungsi membuat tubuh tetap terjaga.

Beberapa penyebab yang membuat hyprocretin menjadi rendah adalah; luka traumatis yang melibatkan kerusakan otak, tumor, infeksi, kerentanan terhadap racun tertentu, diet, stres, perubahan hormon (yang biasa terjadi pada pubertas atau menopause), dan perubahan pada jadwal tidur rutin.

Selain itu, Penyebab narkolepsi disebabkan oleh rendahnya produksi hormon yang bertugas meregulasi tidur, yaitu hipokretin atau oreksin, akibat gangguan autoimun atau akibat penyakit dan cedera yang merusak bagian otak sebagai organ yang memproduksi hormon tersebut.

Gejala-Gejala pada syndrom ini :

Gejala narkolepsi dapat memperburuk selama beberapa tahun pertama, dan kemudian bekelanjutan seumur hidup. Gejala-gejalanya  termasuk: 

1. Rasa kantuk berlebihan di siang hari. 

Karakteristik utama narkolepsi adalah mengantuk luar biasa dan keinginan tak terkendali untuk tidur siang. Orang dengan narkolepsi tertidur tanpa peringatan, di mana saja, kapan saja. Misalnya, tiba-tiba terkantuk-kantuk saat bekerja atau berbicara dengan teman. teridur selama beberapa menit atau sampai setengah jam, bangun dan merasa segar, tetapi akhirnya tertidur. Mengalami penurunan kewaspadaan sepanjang hari. Kantuk di siang hari yang berlebihan biasanya adalah gejala pertama yang muncul dan menyulitkan, sehingga sulit bagi untuk berkonsentrasi dan bekerja dengan maksimal. 

2. Kehilangan ketebalan otot secara tiba-tiba. 

Kondisi ini, disebut cataplexy, dapat menyebabkan sejumlah perubahan fisik, dari bicara melantur sampai pada melemahnya sebagian besar otot tubuh, dan dapat berlangsung selama beberapa detik sampai beberapa menit. Cataplexy tidak terkendali dan sering dipicu oleh emosi yang intens, yang misalnya seperti hal positif, tertawa atau kegembiraan, tapi kadang-kadang takut, terkejut atau marah. Misalnya, kepala terkulai tak terkendali atau lutut tiba-tiba tertekuk sewaktu tertawa. Beberapa orang dengan narkolepsi hanya satu atau dua mengalami cataplexy dalam setahun, sementara yang lain mengalami banyak kejadian cataplexy setiap hari. 

3. Lumpuh tidur/sleep paralysis. 

Orang dengan narkolepsi sering mengalami ketidakmampuan sementara untuk bergerak atau berbicara saat tidur atau setelah bangun. kejadian ini biasanya singkat - yang berlangsung satu atau dua menit - tetapi bisa menakutkan. Anda mungkin tidak menyadari kondisi tersebut dan tidak memiliki kesulitan mengingat sesudahnya, bahkan jika tidak memiliki kontrol atas apa yang terjadi. Kelumpuhan tidur ini seperti kelumpuhan sementara yang biasanya terjadi selama fase tidur gerakan mata cepat (REM), fase dimana proses mimpi terjadi. Ketidakmampuan bergerak sementara selama fase tidur REM dapat mencegah tubuh dari memerankan aktivitas mimpi. Tidak semua orang dengan kelumpuhan tidur memiliki narkolepsi, namun. Banyak orang tanpa narkolepsi mengalami beberapa kejadian kelumpuhan tidur, terutama di masa dewasa muda. 

4. Halusinasi

Halusinasi ini, disebut halusinasi hypnagogic, dapat terjadi ketika tertidur cepat ke dalam fase tidur REM, seperti yang terjadi saat mulai tertidur, atau pada saat bangun tidur. Karena mungkin hanya setengah-terbangun ketika mulai bermimpi, membuat mimpi tersebut sebagai realitas, dan bisa sangat jelas dan menakutkan.

Bagaimana cara penanggulangannya?

Sebenarnya belum ada satu obat pun yang bisa mengobati narkolepsi. Obat yang tersedia saat ini hanya bisa meredakan atau mengendalikan gejala-gejalanya agar aktivitas sehari-hari penderitanya tidak terganggu.

Contohnya, untuk mengatasi gejala kantuk yang tidak terkendali di siang hari, obat golongan stimulan seperti modafinil dan methylphenidate kemungkinan akan diresepkan. Obat-obatan ini mampu membantu penderita narkolepsi untuk tetap terjaga di siang hari dengan cara menstimulasi sistem saraf pusat.

Contoh lainnya adalah pemberian antidepresan (misalnya clomipramine dan imipramine), selective serotonin reuptake inhibitors / SSRI (misalnya fluoxetine), dan norepinephrine reuptake inhibitors/SNRI (misalnya venlafaxine) untuk mengatasi gejala katapleksi atau hilang kendali otot.

Khusus untuk SSRI dan SNRI, selain bisa digunakan untuk mengontrol katapleksi, obat ini juga dapat diresepkan untuk mengatasi gejala ketindihan (sleep paralysis) dan halusinasi.

[Dirangkum dari berbagai sumber]

No comments:

Post a Comment

Komen yang mengandung Spam akan kami detete