6 Fakta Ilmiah Tentang Kebosanan yang Harus Diketahui

Halo Serupedians

Kebosanan atau rasa bosan merupakan hal yang sering Kita alami. Mulai dari bosan dengan aktivitas sehari-hari sampai bosan pada pasangan sendiri. Dalam pandangan konvensional, kebosanan adalah keadaan emosional atau psikologis yang dialami saat seseorang dibiarkan tanpa sesuatu yang khusus dilakukan, tidak tertarik pada lingkungannya, atau merasa bahwa hari atau periode membosankan. 


Namun dari sejumlah penelitian menunjukan bahwa kebosanan yang ada bisa ditimbulkan dari hal yang tak terduga, dan hal ini telah ditinjau secara ilmiah. Berikut serupedia akan mengulas tentang 5 Fakta Ilmiah Tentang Kebosanan yang Harus Diketahui.

1. Kebosanan tidak sama dengan apatis

Meski kedua istilah tersebut sering digunakan secara sinonim, rasa bosan tidak sama dengan apatis. 

"Saya pikir, sering kali, ketika orang sedang dalam kebosanan, mereka memikirkan diatas kursi atau sofe dan terlihat seperti apatis, tapi bukan itu yang kita bicarakan di sini," kata James Danckert, profesor neuroscience kognitif di University of Waterloo di Ontario.

Kebosanan terjadi karena saat terjadi motivasi tinggi namun tidak memiliki cara untuk menyelesaikannya. Maka yang dilakukan adalah berdiam diri dan menghabiskan waktu ditempat yang dirasa nyaman.

2. Penguasaan diri adalah hal utama dalam perasaan bosan orang

Danckert telah mempelajari kebosanan pada orang dewasa muda dan orang-orang dengan cedera otak traumatis. Ia memperoleh hasil bahwa orang-orang yang merasa lebih bosan lebih cenderung memiliki korteks frontal yang terluka atau terbelakang. Bagian otak ini memainkan peran penting dalam pengendalian diri dan pengaturan diri.

Sehingga jelas bahwa orang yang mudah mengusai diri mudah mengendalikan kebosanannya dan tidak mudah untuk selalu dalam kondisi yang tidak menyenangkan.

3. Kebosanan bisa mempengaruhi pengobatan depresi

Pada penelitian tahun 2013, Danckert dan beberapa rekannya mengungkapkan bahwa kebosanan bisa mengganggu pengobatan depresi pada orang-orang yang mengalami cedera otak traumatis. 

Di laporan penelitian tersebut, para peneliti menulis bahwa terapi aktivasi perilaku, yang mendorong pasien untuk melakukan aktivitas yang mendorong pada perasaan senang, mungkin tidak bekerja dengan baik pada pasien yang rawan kebosanan.

Alih-alih mengatasi kurangnya motivasi, pendekatan terapeutik yang berfokus pada pembelajaran bagaimana menikmati aktivitas bisa lebih tepat dilakukan pada individu yang bosan dengan depresi, kata peneliti.


4. Kebosanan akan membuat jadi lebih kreatif

Seperti yang dilansir dari bbc.com, Psikoanalis Martin Wangh menggambarkan kebosanan sebagai "memasuki dunia fantasi" dan serangkaian penelitian menyebut bahwa mereka yang mengalami kebosanan kurang mendapat rangsangan eksternal dan mudah putus asa dalam situasi yang sulit.

Tapi mungkin kita melihat kebosanan dengan cara yang salah. Ada semakin banyak penelitian yang menunjukkan bahwa jika kita tidak memberi kesempatan diri kita untuk merasa bosan, maka kita mungkin akan kehilangan sesuatu yang penting.

5. Ketika keadaan semakin sulit, orang menjadi bosan

Banyak orang menyimpulkan bahwa anak cerdas yang tidak cukup tertantang bisa menjadi bosan dan bisa berbuat salah. Namun penelitian menunjukkan bahwa siswa yang merasa terlalu tertantang di sekolah juga bisa merasa bosan.

Dalam sebuah studi tahun 2012 oleh Acee, peneliti memberikan teka-teki mudah dan sulit pada 150 siswa di sekolah, dan kemudian hasilnya digunakan untuk menganalisis tingkat kebahagiaan siswa. 

Hasil penelitian menunjukkan bahwa tugas yang mudah menyebabkan kebosanan tidak lebih terfokuskan, sedangkan tugas yang sulit menyebabkan kebosanan lebih terfokus (merasa bahwa "ini membosankan").

6. Orang dengan IQ tinggi mudah bosan

Penelitian terbaru mengungkap bahwa orang dengan kecerdasan tinggi kebanyakan menghabiskan waktu bermalas-malasan daripada orang aktif dari mereka. 

Temuan dari sebuah penelitian berbasis di AS ini tampaknya mendukung gagasan bahwa orang dengan IQ tinggi merasa cepat bosan karena merasa baginya semua mudah dilakukan, sehingga membuat mereka menghabiskan lebih banyak waktu untuk terlibat dalam pemikiran saja ketimbang melakukan aktifitas fisik.


No comments:

Komen yang mengandung Spam akan kami detete

Powered by Blogger.