Mengapa Gempa Bumi Terjadi? Ini Penjelasannya


Halo Serupedians

Gempa bumi merupakan bencana alam yang selalu menakutkan bagi masyarakat apalagi masyarakat yang berada diantara dua lempeng benua. Menurut wikipedia, Gempa bumi adalah getaran atau guncangan yang terjadi di permukaan bumi akibat pelepasan energi dari dalam secara tiba-tiba yang menciptakan gelombang seismik. Gempa Bumi biasa disebabkan oleh pergerakan kerak Bumi (lempeng Bumi). Frekuensi suatu wilayah, mengacu pada jenis dan ukuran gempa Bumi yang di alami selama periode waktu. Gempa Bumi diukur dengan menggunakan alat Seismometer. Moment magnitudo adalah skala yang paling umum di mana gempa Bumi terjadi untuk seluruh dunia. 

Gempa bumi biasanya terjadi di perbatasan lempengan lempengan tersebut. Gempa bumi yang paling parah biasanya terjadi di perbatasan lempengan kompresional dan translasional. Gempa bumi fokus dalam kemungkinan besar terjadi karena materi lapisan litosfer yang terjepit kedalam mengalami transisi fase pada kedalaman lebih dari 600 km.

Beberapa gempa bumi lain juga dapat terjadi karena pergerakan magma di dalam gunung berapi. Gempa bumi seperti itu dapat menjadi gejala akan terjadinya letusan gunung berapi. Beberapa gempa bumi (jarang namun) juga terjadi karena menumpuknya massa air yang sangat besar di balik dam, seperti Dam Karibia di Zambia, Afrika. Sebagian lagi (jarang juga) juga dapat terjadi karena injeksi atau akstraksi cairan dari/ke dalam bumi (contoh. pada beberapa pembangkit listrik tenaga panas bumi dan di Rocky Mountain Arsenal. Terakhir, gempa juga dapat terjadi dari peledakan bahan peledak. Hal ini dapat membuat para ilmuwan memonitor tes rahasia senjata nuklir yang dilakukan pemerintah. Gempa bumi yang disebabkan oleh manusia seperti ini dinamakan juga seismisitas terinduksi.

Penyebab terjadinya gempa :

1. Pergerakan Tektonik

Bumi tersusun atas 4 lapisan utama, dimulai dari yang terluar, yaitu lithosphere, mantel, inti luar dan inti dalam. Lithosphere merupakan lapisan dimana manusia berada, lapisan ini terbilang tipis dibandingkan dengan lapisan lainnya. Tidak hanya tipis, namun lapisan ini tersusun atas bagian-bagian, artinya bukanlah satu lapisan utuh yang menyelimuti Bumi. Setiap bagian lapisan lithosphere itu senantiasa bergerak.

Kita kerap mengenal bagian lapisan lithosphere sebagai lempeng tektonik. Setiap lempeng tektonik memiliki ujung yang saling berbatasan, yang disebut dengan lipatan. Nah, saat satu lempeng bergerak jauh, maka lempeng yang lain akan terpengaruh, terutama pada bagian lipatannya. Saat itulah, gempa Bumi bisa terjadi pada daerah lipatan tempat bertemunya lempeng tektonik. Gempa itu lah yang kemudian dirasakan manusia di permukaan, dan disebut dengan gempa tektonik.

Gempa tektonik yang kuat sering terjadi di sekitar tapal batas lempengan-lempengan tektonik. Lempengan-lempengan tektonik ini selalu bergerak dan saling mendesak satu sama lain. Pergerakan lempengan-lempengan tektonik ini menyebabkan terjadinya penimbunan energi secara perlahan-lahan. Gempa tektonik kemudian terjadi karena adanya pelepasan energi yang telah lama tertimbun tersebut. Gempa tektonik biasanya jauh lebih kuat getarannya dibandingkan dengan gempa vulkanik, maka getaran gempa yang merusak bangunan kebanyakan disebabkan oleh gempa tektonik. 

Tenaga yang dihasilkan oleh tekanan antara batuan dikenal sebagai kecacatan tektonik. Teori dari tectonic plate (lempeng tektonik) menjelaskan bahwa bumi terdiri dari beberapa lapisan batuan, sebagian besar area dari lapisan kerak itu akan hanyut dan mengapung di lapisan seperti salju. Lapisan tersebut begerak perlahan sehingga berpecah-pecah dan bertabrakan satu sama lainnya. Hal inilah yang menyebabkan terjadinya gempa tektonik. 

Peta penyebarannya mengikuti pola dan aturan yang khusus dan menyempit, yakni mengikuti pola-pola pertemuan lempeng-lempeng tektonik yang menyusun kerak bumi. Dalam ilmu kebumian (geologi), kerangka teoretis tektonik lempeng merupakan postulat untuk menjelaskan fenomena gempa Bumi tektonik yang melanda hampir seluruh kawasan, yang berdekatan dengan batas pertemuan lempeng tektonik. Contoh gempa tektonik ialah seperti yang terjadi di Yogyakarta, Indonesia pada Sabtu, 27 Mei 2006 dini hari, pukul 05.54 WIB.

Untuk memahami lempeng tektonik mari kita simak video berikut :


2. Aktivitas Gunung Berapi

Aktivitas gunung berapi atau vulkanik juga bisa menyebabkan terjadinya gempa bumi. Biasanya gempa bumi yang terjadi akibat aktivitas gunung berapi disebabkan oleh adanya pergerakan magma di dalam perut Bumi.

Aktivitas magma di bawah gunung berapi menciptakan munculnya tekanan, sehingga gunung berapi menyemburkan magma keluar, setelah itu tekanan terus tercipta dan diikuti oleh semburan-semburan magma berikutnya. Semburan magma itu terjadi tentunya melalui batuan-batuan di atasnya, sehingga bebatuan itu menjadi retak atau pecah. Setiap batuan yang retak atau pecah akan menyebabkan munculnya gempa, karena pada dasarnya batuan-batuan itu adalah bagian dari lempeng Bumi.

Seperti yang dijelaskan di atas, adanya gangguan pada lempeng Bumi akan menyebabkan terjadinya gempa Bumi yang akan dirasakan manusia di permukaan. Besar kecilnya gempa yang tercipta tergantung dari besar atau tidaknya bebatuan itu terpecah oleh aktivitas semburan magma. Jadi, semakin besar semburan magma oleh gunung berapi, maka besar kemungkinan gempa bumi yang muncul akan besar pula.


Gempa-gempa kecil itu sebenarnya bisa dideteksi dengan menggunakan alat seismograf yang akan melihat adanya tremor vulkanik pada permukaan Bumi di sekitar gunung berapi. Hal itu pula lah yang menjadi alat untuk pencegahan dini meminimalisir dampak yang muncul akibat letusan ataupun gempa vulkanik.


No comments:

Post a Comment

Komen yang mengandung Spam akan kami detete