Bagaimana Manfaat Puasa Bagi Penderita Jantung dan Kanker?

Halo Serupedians

Para ahli jantung di lembaga Intermountain Medical Center Heart Institute melaporkan bahwa puasa tidak hanya menurunkan risiko seseorang mengalami sakit jantung koroner dan diabetes, namun juga menimbulkan perubahan yang signifikan dari kadar kolesterol darah seseorang.


Penelitian yang dilakukan di tahun 2011 ini merupakan kelanjutan dari temuan penelitian yang dilakukan pada tahun 2007 dimana para peneliti menemukan bahwa dengan berpuasa, risiko seseorang mengalami penyakit jantung koroner menurun secara signifikan. Namun pada tahun tersebut para peneliti belum menemukan bagaimana mekanisme yang terjadi.

Penelitian lanjutan menemukan bahwa  berpuasa teryata ikut menurunkan faktor risiko lain seperti trigliserida, kadar gula darah dan berat badan.  Penurunan pada parameter tersebut membuktikan bahwa angka penurunan risiko sakit jantung bukanlah hal yang kebetulan semata. Namun, memiliki penjelasan fisiologis yang jelas.

Hasil yang sedikit mengejutkan adalah ternyata kolesterol total tubuh mengalami kenaikan selama periode puasa. Kenaikan ini terjadi karena  kadar kolesterol jahat (LDL-C) dan kolesterol baik (HDL-C)  mengalami kenaikan.

Kenaikan jumlah kolesterol total ini terjadi karena adanya aktivitas perombakan sel lemak untuk diubah menjadi energi. Ketua penelitian ini, dr. Horne menjelaskan bahwa puasa menyebabkan seseorang mengalami kelaparan dan stress, dan menyebabkan tubuh menggunakan lebih banyak kolesterol untuk sumber tenaga. Penggantian sumber tenaga dari glukosa menjadi kolesterol (LDL-C) ini terjadi setelah melakukan 10-12 jam puasa.  Jika hal ini berlangsung terus, akibatnya terjadi penurunan jumlah sel lemak pada tubuh. Seseorang yang memiliki sel lemak yang lebih sedikit memiliki risiko yang lebih kecil mengalami resistensi insulin dan lebih terlindungi dari diabetes. Diabetes sendiri telah diketahui sebagai salah satu faktor risiko dari penyakit jantung koroner.

Para peneliti juga mengkonfirmasi bahwa puasa meningkatkan  human growth hormone (HGH). Senyawa ini diketahui dapat meningkatkan metabolisme dan membakar lemak.

Melihat hasil yang menggembirakan dari berbagai penelitian mengenai puasa, Dr. Horne percaya bahwa puasa suatu hari dapat diresepkan sebagai terapi. Namun, saat ini masih perlu dilakukan penelitian lebih lanjut mengenai bagaimana reaksi tubuh terhadap puasa. Selain itu, diperlukan penelitian yang menilai berapa waktu yang dibutuhkan untuk mulai mendapatkan manfaat dari puasa.

Bagaimana dengan penderita kanker?

Penelitian yang dilakukan di University of Southern California menujukan bahwa berpuasa dapat melindungi kerusakan sistem pertahanan tubuh dan memicu regenerasi pembentukan sel imun yang baru. Para peneliti menyimpulkan bahwa berpuasa merubah kondisi “tidur” stem cell kita berubah menjadi kondisi aktif.

Selama penelitian para peneliti melakukan pengamatan pada pasien kanker yang sedang menjalani pengobatan dengan kemoterapi. Dan menemukan efek sinergis dari melakukan puasa dan proses pengobatan kanker.

Valter Longo, salah satu penulis dalam penelitian ini menyatakan bahwa  para  peneliti tidak menduga bahwa puasa  dapat memberikan efek yang sangat baik dalam regenerasi stem cell pada sistem pembentukan darah (hemapoetik). Jika kita kelaparan, sistem tubuh berusaha untuk menghemat energi.  Usaha penghematan ini salah satunya dilakukan dengan mendaur ulang sel imun yang sudah tidak dibutuhkan, yaitu sel darah putih yang sudah mengalami sedikit kerusakan. Akibatnya jumlah sel darah putih secara keseluruhan akan berkurang. Dan saat seseorang  mulai makan kembali,  jumlah sel darah putih akan meningkat lagi. Pada saat terjadi peningkatan, sel darah putih yang terbentuk adalah sel darah putih yang baru dan jauh lebih sehat.

Selain itu, selama pengamatan para peneliti menemukan bahwa berpuasa pada pasien kanker akan menurunkan enzim PKA yang berhubungan dengan penuaan, pertumbuhan tumor dan kanker.

sumber ; wikipedia, sehatmagz

No comments:

Post a comment

Komen yang mengandung Spam akan kami detete