Header Ads

Apa Itu Tetrakromatik? Ini Dia Penjelasannya

Halo Serupedians

Tetrakromatik masih menjadi pertanyaan masyarakat awam. Orang yang mengidap kelainan langka ini bisa membedakan hampir 100 juta warna. Mungkin kedengarannya aneh dan mengada-ada, tapi inilah kenyataannya. Kelainan ini bersifat genetik, dimana mata yang menderita kelainan ini mampu membedakan empat kanal warna yang berbeda, atau memiliki empat jenis sel kerucut yang berbeda pada matanya.


Kelainan ini memungkinkan orang dengan tetrakromatik bisa melihat hingga 99 juta warna, sementara manusia normal tidak lebih dari 1 juta warna.

Sebenarnya kelainan ini adalah kelainan yang wajar pada hewan seperti burung,ikan, reftilia dan amphibi. Kelainan pada manusia memang jarang terjadi.


Penglihatan super sebenarnya bukan hal aneh pada hewan. Beberapa spesies burung memilih pasangannya berdasarkan perbedaan warna tipis pada bulunya, sementara serangga mampu melihat panjang gelombang warna yang tecermin dari bunga. Diperkirakan, kondisi ini hanya dapat memengaruhi 1 persen manusia.

Bagaimana hal ini bisa terjadi?

Mata memiliki sensor untuk mengenali warna, yaitu sel kerucut. Kebanyakan manusia memiliki tiga jenis sel kerucut atau trikromatik, yang sensitif terhadap warna biru, hijau, dan merah. Percampuran tiga warna ini memungkinkan manusia melihat ragam warna lain. 

Adapun mata yang mengidap kelainan tetrakromatik memiliki empat jenis sel kerucut sehingga lebih sensitif terhadap percampuran warna. Misalnya, warna hijau pada umumnya dikenali sebagai perpaduan antara kuning dan biru. Nah, orang-orang seperti ini juga bisa menemukan sentuhan biru dan kuning tersebut pada warna hijau. 

Memahami Trikomatik 

Trikromatik adalah kondisi di mana mata mampu membedakan tiga kanal warna yang berbeda, atau memiliki tiga jenis sel kerucut yang berbeda pada matanya. Teori trikromatik dicetuskan pada abad ke 18 oleh Thomas Young yang mengatakan bahwa penglihatan warna adalah hasil dari tiga jenis sel fotoreseptor yang berbeda. 

Primata adalah satu-satunya mamalia plasenta dengan trikromatik. Di dalam mata memiliki tiga jenis sel kerucut, masing-masing sel kerucut mengandung pigmen warna yang berbeda (opsin). 

Sel kerucut gelombang pendek (S) (bahasa Inggris: short-wavelength) memiliki puncak sensitifitas pada warna biru, Sel kerucut gelombang menengah (M) (bahasa Inggris: medium-wavelength) memiliki puncak sensitifitas pada warna hijau dan Sel kerucut gelombang panjang (L) (bahasa Inggris: long-wavelength) memiliki puncak sensitifitas pada warna kuning-hijau.


Penglihatan warna trikromatik adalah kemampuan manusia dan beberapa jenis spesies lain untuk melihat warna-warna yang berbeda. Ini dimungkinkan dengan interaksi antara ketiga jenis sel kerucut untuk mendeteksi warna. 

Teori warna trikromatik berawal pada abat ke-18, ketika Thomas Young mengusulkan bahwa penglihata warna adalah hasil dari tiga sel photoreceptor. Herman von Helmholtz kemudian mengembangkan ide Young dengan menggunakan eksperimen pencocokan warna yang menunjukkan bahwa orang dengan penglihatan normal membutuhkan tiga panjang-gelombang untuk membuat kisaran warna normal. Bukti fisiologi dari teori trikromatik didapatkan kemudian oleh Gunnar Svaetichin (1956).

Kisah Concetta Antico 

Salah satu yang beruntung memiliki kelebihan tersebut adalah Concetta Antico. Ia merupakan seniman asal Australia yang kini menetap di San Diego, AS. Ia baru menyadari memiliki kemampuan tersebut pada Desember 2012 lalu.


Concetta ditemukan oleh Dr Jay Neitz, yang terkenal ahli dalam bidang penglihatan warna di Departemen Ophthalmology di University of Washington Medical School. Dr Neitz menyimpulkan melalui pengujian genetik dan menyatakan bahwa Concetta positif tetrakromatik yang membuat dirinya memiliki kemampuan penglihatan warna super.

Pada awalnya, Concetta yang mengikuti kelas seni dianggap mengherankan oleh instruktur dan rekan-rekannya. Dr Wendi misalnya, salah satu ahli syaraf ini merasa heran karena Concetta selalu memilih warna aneh dan warna cat yang acak.

Setelah menyadari kemampuannya, Concetta mulai tertarik untuk mengajarkan orang-orang agar bisa melihat warna yang berbeda. Menurutnya, setiap orang memiliki potensi untuk bisa melihat warna berbeda seperti yang dilakukannya, namun gaya hidup perkotaan dan fokus pada teknologi telah menutupnya.

Kemampuan mempersepsi warna yang unik menunjang pekerjaanya sebagai seorang guru dan pelukis. Ia berkontribusi untuk memberikan teknik setiap siswa dan pemahaman dalam penggunaan warna. Kemampuannya sebagai seniman juga membuat orang bisa melihat beragam warna yang dilihat oleh Concetta.

Namun ironisnya, putri Concetta yang berusia 15 tahun mengalami buta warna. Hal inidisebabkan mutasi genetik yang sama. Concetta berharap ada lebih banyak lagi ahli yang mempelajari dan memahami kondisi ini. Sehingga mereka memahami lebih lanjut tentang pemrosesan visual dan menemukan obat bagi penderita kebutaan warna.

Dirangkum diberbagai sumber

No comments

Komen yang mengandung Spam akan kami detete

Powered by Blogger.